Pola Tani: Pertanian
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

22 Mei 2015

Pedoman Sukses Budidaya Kacang Hijau

Di Indonesia, kacang hijau sudah sangat populer di masyarakat. Kacang Hijau adalah sejenis tanaman palawija yang tumbuh dengan baik di daerah-daerah beriklim tropika. Sedangkan pada kawasan yang beriklim subtropika pertumbuhan kacang hijau kurang optimal.

Tanaman kacang hijau termasuk dalam suku polong-polongan (Fabaceae) dan memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Di Indonesia, kacang hijau menempati urutan ketiga sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. 

Pola tanam kacang hijau sangat tergantung pada kondisi iklim antara lain suhu, pajang hari, kelembapan udara, dan curah hujan. Penanaman kacang hijau pada musim kemarau dengan suhu udara berkisar antara 20-30 °C dianggap lebih optimal dengan kwalitas biji yang lebih baik. Namun, yang harus diperhatikan suhu yang terlalu tinggi (>30 °C) juga tidak baik karena bisa memperhambat proses perkecambahan biji dan polong lebih cepat masak.

Menanam kacang hijau sangat cocok dilakukan pada tanah gembur dengan pH 5,8. Bila tanah kekurangan pH dapat diatasi dengan kapur. Tanah sebagai media tumbuh tanaman, harus benar-benar diperhatikan. 

Bila kadar hara tanah kurang dapat diberikan pupuk kompos dan pupuk makro seperti NPK, Urea, SP36, dan KCL. Pemberian harus dilakukan dengan benar agar tidak merusak lingkungan. 

Pengolahan tanah bisa dilakukan dengan cara mencangkul atau dibajak dengan kerbau/sapi/kuda. Pada lahan yang luas, pengelohan tanah lebih banyak menggunakan mesin traktor karena kostnya lebih murah ketimbang dengan mencangkul.

Indonesia, sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa. Budidaya kacang hijau sangat cocok dilakukan di hampir seluruh wilayah Nusantara. Hanya saja, teknik dan cara menanam kacang hijau  saja yang berbeda-beda. 

Berikut Pedoman Sukses Budidaya Kacang Hijau:

Syarat Tumbuh
Kacang hijau sangat cocok ditanam pada tanah bertekstur liat berlempung yang banyak mengandung bahan organik, aerasi, serta drainase yang baik. Kacang hijau akan tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur dengan pH 5,8 - 7,0 optimal 6,7.

Iklim
Iklim yang baik untuk budidaya kacang hijau di daerah yang memiliki curah hujan optimal yakni 50-200 mm/bulan. Temperatur 25-27 °C (derajat celcius) dan kelembaban udara antara 50-80% serta mendapatkan sinar matahari yang cukup. Faktor iklim seperti suhu, panjang hari, kelembapan udara, dan curah hujan merupakan komponen penting yang sangat menentukan keberasilan tanaman kacang hijau.

Benih dan Varietas

  • Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun tegalan.
  • Varietas terbaru tahan penyakit seperti Sriti, Kutilang, Perkutut, dan Mural. Jenis bibit ini dianjurkan untuk ditanam pada daerah yang memiliki endemik penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun.
  • Kebutuhan benih sekitar 20 kg/ha dengan daya tumbuh 90%.
Penyiapan Lahan
Pada lahan bekas padi (Sawah dan Ladang), tidak perlu dilakukan pengolahan tanah/lahan, yang sering disebut dengan istilah Tanpa Olah Tanah (TOT).

Budidaya di bekas area penanaman padi, tunggul padi perlu dipotong pendek dan dibersihkan atau dipinggirkan. Apabila tanah becek maka perlu dibuat saluran drainase dengan jarak 3-5 m

Pada lahan Tegalan atau bekas Tanaman Palawija, sepert jagung atau jenis lainnya, perlu dilakukan pengolahan tanah. Lahan dibajak sedalam 15-20 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan. Saluran irigasi dibuat dengan jarak 3-5 m.

Cara Tanam
Kacang hijau ditanam dengan sistem tugal. Setiap lubang dimasukkan dua biji/lubang. Penanaman pada musim hujan, menggunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga mencapai populasi 300 - 400 ribu tanaman/ha. 

Pada musim kemarau menggunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya sekitar 400-500 ribu tanaman/ha.

Apabila budidaya kacang hijau dilakukan pada bekas tanaman padi, penanaman kacang hijau tidak boleh lebih dari 5 hari sesudah padi dipanen. (Untuk setiap musim; penyulaman yang baik dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari).

Pemupukan
Untuk lahan yang kurang subur, tanaman dipupuk 45 kg Urea + 45 - 90 kg SP36 + SD kg KCl/ha yang diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 1520 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam. 

Di lahan sawah bekas tanaman padi yang subur, tidak perlu dipupuk maupun diberi bahan organik. Manfaatkan saja mulsa jerami untuk budidaya kacang hijau. Penggunaan mulsa jerami berperan dalam meningkatkan sekitar 30% hasil kacang hijau. Penggunaan mulsa jerami juga dapat menekan serangan hama lalat bibit, pertumbuhan gulma, dan penguapan air. Dosis jerami padi diberikan sebanyak 5 ton/ha. 

Penyiangan
Penyiangan yang baik dilakukan dua kali yaitu pada saat tanaman sudah berumur 2 dan 4 minggu.

Penyakit Kacang Hijau
Penyakit yang sering menyerang kacang hijau antara lain; bercak daun, busuk batang, embun tepung dan penyakit puru.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit. Pengendalian cara lain dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida dan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 700 atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air.

Pada penyakit Embun Tepung (Erysiphepofygoni) dapat dikendalikan dengan fungisida hexakonal dan diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit bercak daun, efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol, diberikan pada umur kacang hijau 4, 5 dan 6 minggu.

Pengendalian Hama
Hama utama kacang hijau adalah: Lalat Kacang (Agmmyxa phaseoti), Ulat Jengkal (Piusia chaitites), Kepik Hijau (Nezara virfduta), Kepik Coklat (Riptonus tinearis), dan Penggerek Polong (Maruca testutalis), Kutu Thrips dan lain-lain.

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Seperti Cwifldor, Regent, Curacron, Atabnon, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/liter air dan volume semprot 5OIM > 00 liter/ha.

Pada daerah yang memiliki endemik lalat bibit (Agromyza phaseoti) perlu tindakan perlakuan benih secara baik. Pengendalian lalat bibit dapat menggunakan insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipnonil (5 cc/kg benih).

Penanganan Panen 
Secara umum, kacang hijau mulai dapat dipanen apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat. Dapat ditandain dengan berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering.

Penanganan panen kacang hijau tidak boleh terlambat. Apabila keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat di lapangan. Panen dengan cara dipetik dan polong segera dijemur selama 2-3 hari hingga kulit mudah terbuka. Lama penjemuran di lahan yang cukup sinar matahari, memakan waktu lebih kurang 2 - 4 hari.

Penjemuran di terik matahari mempermudah saat proses pembijian. Pembijian secara tradisional biasanya dilakukan dengan cara dipukul. Pemukulan bisanya dilakukan dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji dari kotoran dengan menggunakan alat tampah atau tampir. Setelah kacang hijau ditampah, biji segera dijemur lagi sampai kering.

Pola pengeringan yang baik dilakukan melalui sinar matahari. Karena bisa menghasilkan kwalitas biji yang lebih baik, sehat, mudah, murah dan sederhana. 

Bila kacang hijau di budidaya dalam jumlah yang luas tentu sangat menyulitkan, alternatifnya menggunakan alat pengeringan mesin. Melalui alat pengeringan mesin suhu udara, lama pengeringan bisa diatur dan bisa disesuaikan dengan jenis varietas yang dikeringkan. 

Dewasa ini, baru sekitar 60% petani yang aktif menggarap lahan pertanian kacang hijau telah berusia di atas 45 tahun dengan tingkat pendidikan mayoritas sekolah dasar. Dengan kondisi SDM yang demikian, sangat dibutuhkan pedoman sukses budidaya kacang hijau, dalam upaya peningkatan kemampuan dan pengetahuan para petani.

09 Mei 2015

Penyakit Utama Penyerang Tanaman Kedelai

penyakit tanaman kedelai-copy-ent-iastate-edu.jpg
Banyak faktor yang dapat menghambat produksi hasil tanaman kedelai.Selain faktor alam atau kondisi lingkungan tumbuh, kondisi fisik tanah, faktor biotik (penggunaan varietas yang sesuai), pengendalian hama, penyakit, dan gulma kedelai, faktor pemeliharaan/perawatan sampai pada penanganan panen dan paska panen kedelai.

Diantara faktor-faktor tersebut, pengendalian hama, penyakit, dan gulma pada tanaman kedelai termasuk salah satu penyebab menurunnya hasil produksi kedelai. Penyakit-penyakit utama penyerang tanaman kedelai sebagai berikut: 

Hama Utama Kedelai
Hama tanaman kedelai tergolong cukup banyak. Menurut sebuah penelitian di Indonesia, hama utama yang sering menyerang tanaman kedelai di daerah tropika sekitar 20 jenis hama. Berbeda dengan budidaya kedelai di daerah subtropis, jumlah hama berkisar 1-2 jenis.

Salah satu jenis hama yang paling ganas menyerang tanaman kedelai di daerah tropika adalah hama seranga daun yang bersifat polipage. Keberadaan hama serangga daun mampu menyerang beberapa jenis tanaman sekaligus, sehingga jumlah hama ini selalu ada di sepanjang tahun. 

Penyakit Utama Kedelai
Ada dua penyakit utama yang sering kali dijumpai pada tanaman kedelai, yaitu karat duan dan virus. Tanaman kedelai yang diserang oleh dua penyakit ini tergolong sangat fatal, sebab bisa menyebabkan penurunan hasil produksi kedelai mencapai 30-60 %.

Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan fungsida dan penanam varietas unggul yang toleran seperti Merbabu, Kerinci, dan Depo. Untuk pencegahan penyakit virus dapat dilakukan antara lain dengan melakukan rotasi tanam, pembakaran inang, memberantas serangga vektor, penggunaan bibit sehat, dan pembuangan tanaman sakit.

Gulma Utama Kedelai
Jenis gulma yang sering menyerang tanaman kedelai antara lain Amaranthus, Cyperus, Imperata Cylindrica (sejenis alang-alang), Paspalum, Digitaria, dan Tuton. Setiap tanaman kedelai yang diserang oleh gulma-gulma ini bisa menyebabkan penurunan hasil biji berkisar antara 20-80%. 

Untuk mencegah gulma pada tanaman kedelai, petani dapat melakukannya dengan melakukan penyiangan lahan. Penanganan hama juga dapat dilakukan dengan penggunaan mulsa jerami (Aceh: jumpueng pade). Mulsa jerami padi bisa menekan pertumbuhan gulma sampai 55 - 65%.

Faktor lain yang menjadi penghambat jumlah produksi kedelai di Indonesia, karena jumlah penanamanya yang masih sangat terbatas, apakah budidaya kedelai tropika maupun budidaya kedelai subtropis yang hasilnya lebih baik.

07 Mei 2015

Mengenal Lahan Budidaya Kacang Kedelai

Perkebunan kacang kedelai di Brasil
Seperti tanaman lainnya, tanaman kedelai menghendaki kondisi lahan yang spesifik untuk tumbuah optimal. Di Indonesia, umumnya penanaman kedelai dilakukan pada tiga jenis lahan, yaitu lahan sawah, lahan kering, dan lahan pasang surut.

Secara agroekologi lahan, kacang kedelai sangat cocok ditanam di lahan sawah karena tingkat kesuburan tanahnya relatif subur serta kesedian air pun relatif cukup, karena didukung oleh irigasi. Kacang kedelai yang ditanam pada lahan sawah (dengan menggunakan pola tanam padi-kedelai) pada umur 85-95 hari sudah dapat dipanen.

Kacang kedelai yang ditanam pada lahan kering, ketersediaan air sangat tergantung pada curah hujan. Topografi lahan kering umumnya berlereng dan tingkat kesuburan tanahnya rata-rata rendah. 
"Tetapi dibeberapa wilayah di Indonesia, pada lahan kering juga memiliki kesuburan tanah yang tinggi walaupun lahannya berlereng".
Budidaya kacang kedelai juga dapat dilakukan pada lahan pasang surut yaitu lahan yang tidak terluapi air pasang besar atau kecil. Dalam teori Schmidt-Ferguson termasuk dalam tipe iklim agak basah (tipe c), dan budidaya kedelai pada musim ini biasanya dilakukan pada bulan Maret atau April.

Oleh karena itu, kesuksesan dalam budidaya kedelai, kesesuaian lahan harus benar-benar diketahui. Karena pertumbuhan tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan tumbuh dan iklim. 

Komponen-komponen penting yang harus diketahui dalam budidaya kedelai, seperti suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan. Mengetahui karakteristik lahan merupakan salah satu persyaratan dalam mengenal lahan budidaya kacang kedelai yang cocok untuk mengembangkan lahan kedelai.

Suhu Udara
Budidaya tanaman kedelai pada musim kemarau suhu udara berkisar antara 20-30 derajat Celcius (°C), dan bila diatas 30 °C bisa memperhambat proses perkecambahan biji dan polong menjadi lebih cepat masak dan juga mudah lurus (aborsi). Hal ini tentu akan membuat pembentukan jumlah polong dan proses pengisian biji tidak optimal.

Panjang Hari
Budidaya kedelai di daerah tropika memerlukan penyinaran matahari berkisar antara 11-12 jam/hari. Sedangkan di daerah subtropika penyinarakan matahari umumnya berkisar anatar 14-16 jam/hari. 

Kelembapan Udara
Kelembapan udara yang tinggi sangat berpengaruh terhadap proses pemasakan biji kedelai karena semakin tinggi kelembapan maka proses pemasakan polong akan semakin cepat sehingga proses pembentukan biji menjadi kurang optimal. Udara yang tinggi dalam waktu yang lama akan mendorong berkembangkanya hama penyakit dan pertumbuhan kedelai tidak optimal.

Pada lahan yang mengalami kelembapan yang tinggi dapat diatasi dengan membuat draenasi (saluran) setiap jarak 3-4 m (tergantung pada lebar petakan). Kedalaman saluran berkisar 25-30 cm dengan lebar 20-25 cm, dan menyesuai dengan letak kondisi lahan.

Curah Hujan
Kebutuhan air untuk tanaman kedelai sekitar 350 -550 mm. Kekurangan atau kelebihan akan berpengaruh terhadap produksi kedelai, salah satunya bisa menyebabkan polong busuk. Kedelai hanya memerlukan kesedian air yang cukup pada masa stadia awal perkecambahan (vegetatif), stadia berbunga serta pembentukan dan pengisian polong. 

Jika kacang ditanam pada saat curah hujan tinggi, maka jenis tanah yang sangat cocok digunakan untuk budidaya kedelai adalah tanah lempung berpasir. Sebab, jenis tanah pasir mudah menyerap air.

Dari karakteristik lahan kedelai diatas, ternyata kacang kedelai tidak hanya dapat ditanam di daerah subtropika, juga dapat di budidaya pada daerah-daerah iklim tropika. Oleh karenanya, jadikan usaha Anda dengan Budidaya kedelai tropika.

03 Mei 2015

Teknik Budidaya Jahe

jahe merah / woodlandgardensorganic.com
Potensi budidaya jahe potensi yang luar biasa. Jahe bisa ditanam dimana saja asal memenuhi syarat tumbuh. Penanaman dalam skala dilakukan di area yang luas. Bagi yang belum memiliki lahan yang luas bisa ditanam dalam perkarangan rumah dengan menggunakan metode vertikultur dan polybag/karung. Teknik Budidaya Jahe berikut ini semoga dapat menjadi pedoman bagi Anda.

PERSYARATAN TUMBUH
Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut: 

Iklim tipe A, B dan C (Schmidt dan ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl dengan temperatur rata-rata tahunan 25 - 30º C, jumlah bulan basah (> 100 mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm, intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 - 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah.

Pada lahan dengan kemiringan > 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. 

Persyaratan lahan lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases) terutama bakteri layu dan nematoda. Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.

BAHAN TANAMAN
Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk, beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu Jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. 

Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20 – 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. 

Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 – 11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.

Jahe merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. 

Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha. Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.

PEMBENIHAN
Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. 

Beberapa penyakit penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematoda (Rhodopolus similis) dan lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan.

Pemilihan benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang penyimpanan. Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas.

Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25 - 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.

Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. 

Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.

BUDIDAYA
Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.

Persiapan lahan
Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk.

Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur tumbuhnya.

Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), sistim guludan atau dengan sistim pris (parit). Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.

Jarak tanam
Benih jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Pemupukan
Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis pupuk buatan SP-36 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400 kg/ha, diberikan pada saat tanam. 

Pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha, masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Berikut langkah-langkah atau teknik pemeliharaan jahe:


a. Penyiangan gulma
Sampai tanaman berumur 6 - 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif secara bersih. Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.

b. Penyulaman
Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 – 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.

c. Pembumbunan / pendangiran
Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah. Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, drainase akan selalu terpelihara.

d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman
Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum).

Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. 
"Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT". 
Hama yang cukup signifikan menyerang tanaman jehe adalah lalat rimpang Mimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan.

Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin.

POLA TANAM
Untuk meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan tanaman sayuran, sesuai dengan kondisi lahan.

PANEN
Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. Tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel dibersihkan.

Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.

Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI).

Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikatagorikan sebagai berikut:

  • Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
  • Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
  • Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%.
PASCA PANEN
Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal 1 – 4 mm.

Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36 – 46° C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. 

Selain itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 - 10%.

Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik, dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.

PENGANEKARAGAMAN PRODUK
Selain simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak atsiri, oleoresin, bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe, jahe kristal dan anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor yang potensial, dibuat dari jahe putih besar yang dipanen muda (3 bulan), dengan kadar serat rendah.

Sedangkan permen jahe, manisan, sirup, instant, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yang dipanen tua. Selain untuk bahan baku obat tradisional (jamu), jahe sudah mulai digunakan untuk obat fitofarmaka karena kandungan gingerolnya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot dan sendi.

USAHA TANI
Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor produksi didalam budidaya perlu diperhitungkan. Berikut adalah analisis usahatani jahe dengan menggunakan calon varietas unggul dan budidaya anjuran Balittro.

Di Jamaica, "jahe" yang baru dipungut segera dilempar ke dalam bak-bak air, kemudian diobok-obok supaya bersih sendiri. Kalau anda pengusaha perkebunan hasilnya untuk eksport, umbi "jahe" tadi harus bersih pula dari kulit-kulit selaput luarnya.

Di Jamaica terkenal sebagai produsen "jahe" kering yang paling bagus, orang mengupas kulit selaput terluarnya dengan tangan setelah "jahe-jahe" tadi direndam dalam air panas. Setelah dikupas dimasukkan lagi ke dalam air, untuk dicuci sekali lagi sampai bersih. Kemudian "jahe" yang sudah bersih tadi direndam air lagi selama satu malam. Kadang-kadang dalam bak-bak perendam ini juga dibubuhkan air jeruk nipis, supaya warna "jahe" itu tetap muda. Sesudah itu semuanya dikeringkan diatas tikar disinar matahari sehari penuh, kalau sudah sore dimasukkan ke gudang kering.

Setelah dikeringkan begini selama 7 hari, biasanya "jahe" sudah cukup kering. Dan beratnya kira-kira tinggal 70% saja dari berat semula. Namun kadar sari "jahe"nya masih ada kira-kira 12% dan kualitasnya dipandang bagus, sehingga laku untuk dijual.

"Jahe" yang dianggap berkualitas tinggi memang "jahe-jahe" besar dan bersih, tapi tidak kering, bagian dalamnya tidak ada bagian-bagian yang patah dan tidak keriput.

"Jahe" termasuk dalam tanaman obat berkhasiat sekaligus bumbu penyedap masakan. "Jahe" juga diketahui memiliki kandungan anti nyeri alamiah sehingga cukup banyak orang yang menggunakan minyak "jahe" sebagai pereda nyeri dan juga bengkak.

#referensi:
http://balittro.litbang.pertanian.go.id/

Potensi Budidaya Jahe

Tanaman Jahe Bibit Unggul dan Super
Jahe adalah salah satu jenis tanaman berkhasiat untuk kesehatan sebagai tanaman rempah-rempah yang menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka. Menurut sejarah jahe di wikipedia, tanaman ini diperkirakan berasal dari India. Namun ada pula yang mempercayai jahe berasal dari Republik Rakyat Tiongkok Selatan. Dari India, jahe dibawa sebagai rempah perdagangan hingga Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, hingga Timur Tengah. Kemudian pada zaman kolonialisme, jahe yang bisa memberikan rasa hangat dan pedas pada makanan segera menjadi komoditas yang populer di Eropa.

Jahe (Zingiberceace officinale) adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Jahe berasal dari Asia Pasifik dari China sampai India. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai salah satu bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama untuk bahan minuman, bumbu dapur dan juga bahan baku obat.

Indonesia, merupakan salah satu negara ekspor komoditas terbesar rempah-rempah di dunia. Sampai saat ini, jahe bisa dikatakan menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia. Selama 10 tahun terakhir, diketahui bahwa perkembangan luas area jahe di Indonesia terus mengalami peningkatan. 
Perluasan area jahe masih terpusat di pulau Jawa, belum menyebar keseluruh pelosok Nusantara. Padahal untuk pengembangan area jahe bisa dilakukan di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau Papua, dari Sabang sampai Meuroke.
Menanam jahe memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Hal ini dapat dilihat di harga pasar, hal ini tentu memberikan hikmah kepada kita untuk berpikir kembali untuk perkembangan tanaman jahe secara meluas. Persepsi di tengah-tengah masyarakat yang beranggapan bahwa jahe tidak cocok untuk ditanam pada semua iklim, sebenarnya tidaklah salah. Tetapi, saat ini telah banyak varietas jahe unggul yang dapat beradaptasi dan cocok ditanam dilingkungan manapun. 

Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya jahe yang optimal diperlukan bahan pedoman supaya dapat memperoleh hasil berkwalitas dan bermutu baik. Dalam rangka menjaga nilai tawar jahe di pasar tidak rusak, maka budidaya jahe dapat mendukung Good Agricultural Practices (GAP).

Bagi Anda yang berminat untuk melakukan Budidaya Jahe dengan memperoleh hasil yang optimal, maka perlu mempelajari Teknik Budidaya Jahe, apakah Anda ingin menanam jahe gajah, jahe putih, jahe merah, jahe badak, jahe kuning kecil (emprit) atau jahe kuning. Yang pasti semua jahe baik dibudidayakan di tanah Indonesia.

01 Mei 2015

Tips Memilih Benih Cabai Rawit dari Buah Tanaman

benih unggul bibit cabai rawit - varitas-net
Budidaya tanaman cabai rawit, termasuk usaha yang selalu menggiurkan. Karena harga cabai rawit pada musim tertentu bisa menjadi super mahal, sehingga menjadi salah satu agribisnis yang banyak digemari para petani dewasa ini. 

Budidaya cabai rawit tergolong mudah dilakukan, bila dibandingkan dengan budidaya cabai keriting, cabai hijau dan cabai merah. Untuk sukses dan hasil yang optimal, tentu banyak hal yang harus dipelajari tentang budidaya cabai rawit. 
Syarat-syarat tumbuh cabai rawit harus benar-benar dapat dipahami. Diantaranya, kondisi iklim, persiapan lahan, pemilihan benih, perawatan cabai, hama dan penyakit cabai, sampai pada proses penanganan panen dan paska panen.
Tahapan awal yang sangat menentukan dalam budidaya cabai rawit yaitu, pemilihan benih cabai rawit yang baik. Untuk mendapatkan benih unggul cabai rawit, dewasa ini sudah tersedia benih cabai rawit hibrida. Benih unggul cabai rawit bisa didapatkan melalui Balai Pembibitan Pemerintah, atau dengan membeli didepot atau tokoh-toko pertanian.

Bila bibit unggul cabai rawit sulit didapat, karena stock dipasar lagi habis, atau harganya yang terlalu tinggi. Tak usah persimis, karena kita bisa memproduksi atau menyorti sendiri melalui buah cabai rawit dari tanamannya. Berikut; tips menyeleksi benih cabai rawit dari buah tanamannya:

Ciri Buah Cabai Rawit untuk Benih:

  • Umur buah harus tua, lebih baik lagi buah yang sudah mengering sendiri di tanaman;
  • Tanaman sudah berumur sekitar 7-8 bulan. Karena pada umur tersebut cabai rawit dalam masa produksi maksimal sampai umur 2 tahun atau 24 bulan;
  • Buah yang dijadikan calon bibit, disarankan buah dari petikan ke 5, 6, dan 7.
  • Hindari pengambilan buah calon bibit dari buah petikan ke 1, 2 dan 3, sebab buah petikan dalam masa-masa ini bijinya banyak yang kecil dan jarang-jarang.
Tips Memilih Biji untuk Benih Cabai Rawit:

Biji yang padat akan tenggelam ke dasar ember dan biji yang tak padat akan mengapung. Biji yang tenggelam inilah yang diambil untuk dijadikan calon bibit, yang mengapung dibuang saja.

Calon benih dijemur, tetapi tidak langsung kena sinar matahari. Penjemuran dihentikan bila calon benih sudah kering, lama penjemuran kira-kira 3 hari di musim kemarau. Selanjutnya, calon bibit yang sudah dikeringkan dilakukanseleksi ulang. 

Ciri-ciri Biji Cabai Rawit untuk Benih:
  • Biji tampak tebat, tidak kurus;
  • Biji tidak keriput dan kusam;
  • Permukaan benih bersih dan tidak tampa kotor;
  • Bentuknya seragam, tidak keriput atau cacat;
  • Warnah permukaan jernih dan berkilat.
Benih yang memenuhi ciri-ciri diatas, setelah dilakukan seleksi segera dimasukkan ke dalam kemasan yang diberi lubang angin dan disimpan di tempat kering, dan pastikan kondisi tempat penyimpanan tidak lembap agar tidak menimbulkan jamur. 

Cara budidaya cabai rawit yang baik, dapat dibaca pada artikel sebelum; Kiat-kiat sukses budidaya cabai rawit.

27 April 2015

Ciri dan Karakter Varietas Kedelai Unggul

Suksesnya pertanaman kedelai di daerah tropika sangat tergantung pada daya adaptasi varietas kedelai unggul yang dikembangkan. Untuk memperoleh produksi hasil yang optimal, penggunaan benih bermutu tinggi merupakan salah satu persyaratan yang mutlak dalam budi daya kedelai. Termasuk dalam, budidaya kedelai tropika. 

Selain penggunaan varietas yang unggul dan berkwalitas, kondisi lahan perlu dipetimbangkan. Secara agroekologi, lahan yang baik untuk tanaman kedelai yaitu; lahan kering (masam dan non masam); lahan sawah (irigas dan lahan sawah tadah hujan); dan lahan pasang surut.


Sebagai komoditas unggulan masa depan, budidaya kacang kedelai menjadi primadona yang cerah dan menjanjikan bagi petani. Namun, adakalanya kecukupan varietas kedelai unggul yang berkwalitas, sering menjadi kendala. 


Disamping, kepahaman petani kita yang masih kurang dalam memahami ciri dan karakter verietas kedelai yang unggul, sehingga berpengaruh pada produksi hasil. Tentu kondisi seperti ini, sangat merugikan para petani.


Beberapa karakter varietas unggul kacang kedelai antara lain; polong tidak mudah pecah; berkwalitas biji baik; toleran pada kondisi lahan suboptimal; dan Toleran terhadap hama penyakit.


Tanda-tanda benih kedelai yang termasuk dalam kategori unggul dan bermutu, dapat diamati dengan ciri-ciri, sebagai berikut:

  • Murni sesuai dengan deskripsi varietasnya
  • Berdaya tumbuh tinggi (>90% atau lebih)
  • Mempunyai vigor yang baik dan serempak
  • Sehat dan terbebas dari hama penyakit
  • Bersih, tidak keriput (bernas), dan tidak ada tanda bekas gigitan hama
  • Memiliki kadar air biji antara 9-10 persen
Di Indonesia, pembentukan varietas kedelai unggul sering dilakukan dengan dua cara. Pertama; dilakukan melalui persilangan antargalur/varietas kedelai yang sudah berkembang. 

Kedua; dilakukan melalui koleksi plasma nutfah serta melalui uji adaptasi/introduksi dari varietas unggul yang berasal dari luar negeri yang cocok dengan kondisi alam Indonesia.

26 April 2015

Budidaya Kedelai Tropika

Kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu dan tempe. Tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.

Kedelai merupakan sumber utama protein nabatin dan minyak nabatin dunia. Kacang kedelai salah satu tumbuhan yang memiliki protein sangat besar dengan kadar protein 11 kali lebih banyak dari susu, 2 kali lebih banyak dari danging dan ikan, dan mengandung lecithin.


Kacang kedelai termasuk dalam famili leguminosae. Di Indonesia, kedelai termasuk komoditas prioritas dalam program revitalisasi pertanian. Sampai saat ini, kedelai bisa dikatakan masih menjadi komoditas yang sangat dibutuhkan dalam memenuhi pangan nasional.


Selama 10 tahun terakhir, diketahui perkembangan area tanam kedelai Indonesia di tingkat dunia masih berada di bawah Amerika Serikat, Brasil, dan India.


Budidaya kedelai, memang sangat cocok ditanam di daerah atau kawasan tropis. Tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi, kedelai dapat juga ditanam di daerah subtropis. Sudah tentu, untuk memaksimalkan produksi yang tinggi dan berkwalitasi baik harus tersedia varietas unggul.

Oleh karena itu, perlu diketahui morfologi tanaman kedelai seperti organ biji, batang, daun, bunga dan polong kedelai.

1. Biji Kedelai

  • Bentuk biji: Biji kedelai ada yang berbentuk bulat, agak gepeng, atau bulat telur. Namun, sebagian besar biji kedelai berbentuk bulat telur.
  • Ukuran biji: Ukuran dan warna biji kedelai juga tidak sama, tetapi sebagian besar berwarna kuning dan ukuran biji kedelai berbeda-beda. Biji kedelai kecil berukuran (<10g/100 biji), biji sedang (10-12 gram/100 biji), dan biji besar berukuran (13-18 gram/100 bij)
2. Batang Kedelai
Batang pada tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang tidak bercabang, sangat tergantung dari karakter varietas kedelai, tetapi umumnya cabang pada tanaman kedelai berjumlah antara 1-5 cabang.
3. Daun Kedelai
Daun kedelai hampir seluruhnya trifoliat (menjadi tiga) dan jarang sekali mempuyai empat atau lima jari daun. Bentuk daun tanaman kedelai bervariasai, yakni berbentuk oval dan lanceolate atau berdaun lebar (broad leaf) dan berdaun sempit (narrow leat).

Di Indonesia, kedelai berdaun sempit lebih banyak ditanam oleh petani dibandingkan tanaman berdaun lebat. Keunggulan kedelai berdaun sempit, karena sinar matahari akan lebih mudah menerobos di antara kanopi daun sehingga mempercepat pembentukan bunga.

4. Bunga Kedelai
Bunga pada tanaman kedelai umumnya muncul/tumbuh pada ketiak daun, tetapi terkadang bunga dapat pula terbentuk pada cabang tanaman yang mempunyai daun. Pada kondisi lingkungan dan populasi yang optimal, bunga kedelai akan terbentuk mulai dari tangkai daun yang paling bawah, dan potensi jumlah bunga sangat tergantung dari varietas kedelai. 

Pada umumnya jumlah bunga antara 40-200 bunga per tanaman kedelai, dan umumnya di tengah pertumbuhannya tanaman kedelai kerap kali mengalami kerontokan bunga. Jika kerontokan bunga kedelai berkisar 20-40 persen termasuk dalam kategori wajar, hal itu berdasarkan hasil sebuah penelitian.


5. Polong Kedelai

Pada umumnya, polong kedelai pertama kali muncul sekitar 10-14 hari masa pertumbuhan, dihitung dari bunga pertama muncul. Adapun warna polong yang baru tumbul berwarna hijau dan selanjutnya akan berubah menjadi kuning-cokelat pada saat dipanen.

Adapun jumlah polong yang terbentuk beragam, yakni antara 2-10 polong pada setiap kelompok bunga diketiak daun. Sementara jumlah polong yang dapat dipanen diperkirakan berkisar antara 20-200 polong pertanaman. Jumlah polong sangat tergantung pada varietas kedelai yang ditanam, kesuburan lahan dan kondisi tumbuh.


Oleh karena itu, sukses atau tidaknya budidaya kedelai sangat tergantung penggunaan bibit yang digunakan. Dengan penggunaan bibit kedelai unggul, bisa memperoleh hasil 2 ton per hektar. Penggunaan varietas kedelai unggul menjadi keharusan untuk dipilih, disamping komponen penting lainnya seperti, pemelihan dan penyiapan lahan kedelai, iklim, waktu tanam dan cara tanam, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit, penanganan hasil dan paska panen kedelai.


Ciri-ciri varietas kedelai unggul, dapat dibaca pada artikel: Ciri-Ciri Varietas Kedelai Unggul.

Hortikultura

[Hortikultura][recentbylabel2]

Info Pertanian

[Pertanian][recentbylabel2]
Notification
Dapatkan infomasi terbaru seputar petanian.
Done