Pola Tani: Jenis Palawija
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Jenis Palawija. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenis Palawija. Tampilkan semua postingan

22 Mei 2015

Pedoman Sukses Budidaya Kacang Hijau

Di Indonesia, kacang hijau sudah sangat populer di masyarakat. Kacang Hijau adalah sejenis tanaman palawija yang tumbuh dengan baik di daerah-daerah beriklim tropika. Sedangkan pada kawasan yang beriklim subtropika pertumbuhan kacang hijau kurang optimal.

Tanaman kacang hijau termasuk dalam suku polong-polongan (Fabaceae) dan memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Di Indonesia, kacang hijau menempati urutan ketiga sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. 

Pola tanam kacang hijau sangat tergantung pada kondisi iklim antara lain suhu, pajang hari, kelembapan udara, dan curah hujan. Penanaman kacang hijau pada musim kemarau dengan suhu udara berkisar antara 20-30 °C dianggap lebih optimal dengan kwalitas biji yang lebih baik. Namun, yang harus diperhatikan suhu yang terlalu tinggi (>30 °C) juga tidak baik karena bisa memperhambat proses perkecambahan biji dan polong lebih cepat masak.

Menanam kacang hijau sangat cocok dilakukan pada tanah gembur dengan pH 5,8. Bila tanah kekurangan pH dapat diatasi dengan kapur. Tanah sebagai media tumbuh tanaman, harus benar-benar diperhatikan. 

Bila kadar hara tanah kurang dapat diberikan pupuk kompos dan pupuk makro seperti NPK, Urea, SP36, dan KCL. Pemberian harus dilakukan dengan benar agar tidak merusak lingkungan. 

Pengolahan tanah bisa dilakukan dengan cara mencangkul atau dibajak dengan kerbau/sapi/kuda. Pada lahan yang luas, pengelohan tanah lebih banyak menggunakan mesin traktor karena kostnya lebih murah ketimbang dengan mencangkul.

Indonesia, sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa. Budidaya kacang hijau sangat cocok dilakukan di hampir seluruh wilayah Nusantara. Hanya saja, teknik dan cara menanam kacang hijau  saja yang berbeda-beda. 

Berikut Pedoman Sukses Budidaya Kacang Hijau:

Syarat Tumbuh
Kacang hijau sangat cocok ditanam pada tanah bertekstur liat berlempung yang banyak mengandung bahan organik, aerasi, serta drainase yang baik. Kacang hijau akan tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur dengan pH 5,8 - 7,0 optimal 6,7.

Iklim
Iklim yang baik untuk budidaya kacang hijau di daerah yang memiliki curah hujan optimal yakni 50-200 mm/bulan. Temperatur 25-27 °C (derajat celcius) dan kelembaban udara antara 50-80% serta mendapatkan sinar matahari yang cukup. Faktor iklim seperti suhu, panjang hari, kelembapan udara, dan curah hujan merupakan komponen penting yang sangat menentukan keberasilan tanaman kacang hijau.

Benih dan Varietas

  • Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun tegalan.
  • Varietas terbaru tahan penyakit seperti Sriti, Kutilang, Perkutut, dan Mural. Jenis bibit ini dianjurkan untuk ditanam pada daerah yang memiliki endemik penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun.
  • Kebutuhan benih sekitar 20 kg/ha dengan daya tumbuh 90%.
Penyiapan Lahan
Pada lahan bekas padi (Sawah dan Ladang), tidak perlu dilakukan pengolahan tanah/lahan, yang sering disebut dengan istilah Tanpa Olah Tanah (TOT).

Budidaya di bekas area penanaman padi, tunggul padi perlu dipotong pendek dan dibersihkan atau dipinggirkan. Apabila tanah becek maka perlu dibuat saluran drainase dengan jarak 3-5 m

Pada lahan Tegalan atau bekas Tanaman Palawija, sepert jagung atau jenis lainnya, perlu dilakukan pengolahan tanah. Lahan dibajak sedalam 15-20 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan. Saluran irigasi dibuat dengan jarak 3-5 m.

Cara Tanam
Kacang hijau ditanam dengan sistem tugal. Setiap lubang dimasukkan dua biji/lubang. Penanaman pada musim hujan, menggunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga mencapai populasi 300 - 400 ribu tanaman/ha. 

Pada musim kemarau menggunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya sekitar 400-500 ribu tanaman/ha.

Apabila budidaya kacang hijau dilakukan pada bekas tanaman padi, penanaman kacang hijau tidak boleh lebih dari 5 hari sesudah padi dipanen. (Untuk setiap musim; penyulaman yang baik dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari).

Pemupukan
Untuk lahan yang kurang subur, tanaman dipupuk 45 kg Urea + 45 - 90 kg SP36 + SD kg KCl/ha yang diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 1520 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam. 

Di lahan sawah bekas tanaman padi yang subur, tidak perlu dipupuk maupun diberi bahan organik. Manfaatkan saja mulsa jerami untuk budidaya kacang hijau. Penggunaan mulsa jerami berperan dalam meningkatkan sekitar 30% hasil kacang hijau. Penggunaan mulsa jerami juga dapat menekan serangan hama lalat bibit, pertumbuhan gulma, dan penguapan air. Dosis jerami padi diberikan sebanyak 5 ton/ha. 

Penyiangan
Penyiangan yang baik dilakukan dua kali yaitu pada saat tanaman sudah berumur 2 dan 4 minggu.

Penyakit Kacang Hijau
Penyakit yang sering menyerang kacang hijau antara lain; bercak daun, busuk batang, embun tepung dan penyakit puru.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit. Pengendalian cara lain dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida dan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 700 atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air.

Pada penyakit Embun Tepung (Erysiphepofygoni) dapat dikendalikan dengan fungisida hexakonal dan diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit bercak daun, efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol, diberikan pada umur kacang hijau 4, 5 dan 6 minggu.

Pengendalian Hama
Hama utama kacang hijau adalah: Lalat Kacang (Agmmyxa phaseoti), Ulat Jengkal (Piusia chaitites), Kepik Hijau (Nezara virfduta), Kepik Coklat (Riptonus tinearis), dan Penggerek Polong (Maruca testutalis), Kutu Thrips dan lain-lain.

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Seperti Cwifldor, Regent, Curacron, Atabnon, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/liter air dan volume semprot 5OIM > 00 liter/ha.

Pada daerah yang memiliki endemik lalat bibit (Agromyza phaseoti) perlu tindakan perlakuan benih secara baik. Pengendalian lalat bibit dapat menggunakan insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipnonil (5 cc/kg benih).

Penanganan Panen 
Secara umum, kacang hijau mulai dapat dipanen apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat. Dapat ditandain dengan berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering.

Penanganan panen kacang hijau tidak boleh terlambat. Apabila keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat di lapangan. Panen dengan cara dipetik dan polong segera dijemur selama 2-3 hari hingga kulit mudah terbuka. Lama penjemuran di lahan yang cukup sinar matahari, memakan waktu lebih kurang 2 - 4 hari.

Penjemuran di terik matahari mempermudah saat proses pembijian. Pembijian secara tradisional biasanya dilakukan dengan cara dipukul. Pemukulan bisanya dilakukan dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji dari kotoran dengan menggunakan alat tampah atau tampir. Setelah kacang hijau ditampah, biji segera dijemur lagi sampai kering.

Pola pengeringan yang baik dilakukan melalui sinar matahari. Karena bisa menghasilkan kwalitas biji yang lebih baik, sehat, mudah, murah dan sederhana. 

Bila kacang hijau di budidaya dalam jumlah yang luas tentu sangat menyulitkan, alternatifnya menggunakan alat pengeringan mesin. Melalui alat pengeringan mesin suhu udara, lama pengeringan bisa diatur dan bisa disesuaikan dengan jenis varietas yang dikeringkan. 

Dewasa ini, baru sekitar 60% petani yang aktif menggarap lahan pertanian kacang hijau telah berusia di atas 45 tahun dengan tingkat pendidikan mayoritas sekolah dasar. Dengan kondisi SDM yang demikian, sangat dibutuhkan pedoman sukses budidaya kacang hijau, dalam upaya peningkatan kemampuan dan pengetahuan para petani.

07 Mei 2015

Mengenal Lahan Budidaya Kacang Kedelai

Perkebunan kacang kedelai di Brasil
Seperti tanaman lainnya, tanaman kedelai menghendaki kondisi lahan yang spesifik untuk tumbuah optimal. Di Indonesia, umumnya penanaman kedelai dilakukan pada tiga jenis lahan, yaitu lahan sawah, lahan kering, dan lahan pasang surut.

Secara agroekologi lahan, kacang kedelai sangat cocok ditanam di lahan sawah karena tingkat kesuburan tanahnya relatif subur serta kesedian air pun relatif cukup, karena didukung oleh irigasi. Kacang kedelai yang ditanam pada lahan sawah (dengan menggunakan pola tanam padi-kedelai) pada umur 85-95 hari sudah dapat dipanen.

Kacang kedelai yang ditanam pada lahan kering, ketersediaan air sangat tergantung pada curah hujan. Topografi lahan kering umumnya berlereng dan tingkat kesuburan tanahnya rata-rata rendah. 
"Tetapi dibeberapa wilayah di Indonesia, pada lahan kering juga memiliki kesuburan tanah yang tinggi walaupun lahannya berlereng".
Budidaya kacang kedelai juga dapat dilakukan pada lahan pasang surut yaitu lahan yang tidak terluapi air pasang besar atau kecil. Dalam teori Schmidt-Ferguson termasuk dalam tipe iklim agak basah (tipe c), dan budidaya kedelai pada musim ini biasanya dilakukan pada bulan Maret atau April.

Oleh karena itu, kesuksesan dalam budidaya kedelai, kesesuaian lahan harus benar-benar diketahui. Karena pertumbuhan tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan tumbuh dan iklim. 

Komponen-komponen penting yang harus diketahui dalam budidaya kedelai, seperti suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan. Mengetahui karakteristik lahan merupakan salah satu persyaratan dalam mengenal lahan budidaya kacang kedelai yang cocok untuk mengembangkan lahan kedelai.

Suhu Udara
Budidaya tanaman kedelai pada musim kemarau suhu udara berkisar antara 20-30 derajat Celcius (°C), dan bila diatas 30 °C bisa memperhambat proses perkecambahan biji dan polong menjadi lebih cepat masak dan juga mudah lurus (aborsi). Hal ini tentu akan membuat pembentukan jumlah polong dan proses pengisian biji tidak optimal.

Panjang Hari
Budidaya kedelai di daerah tropika memerlukan penyinaran matahari berkisar antara 11-12 jam/hari. Sedangkan di daerah subtropika penyinarakan matahari umumnya berkisar anatar 14-16 jam/hari. 

Kelembapan Udara
Kelembapan udara yang tinggi sangat berpengaruh terhadap proses pemasakan biji kedelai karena semakin tinggi kelembapan maka proses pemasakan polong akan semakin cepat sehingga proses pembentukan biji menjadi kurang optimal. Udara yang tinggi dalam waktu yang lama akan mendorong berkembangkanya hama penyakit dan pertumbuhan kedelai tidak optimal.

Pada lahan yang mengalami kelembapan yang tinggi dapat diatasi dengan membuat draenasi (saluran) setiap jarak 3-4 m (tergantung pada lebar petakan). Kedalaman saluran berkisar 25-30 cm dengan lebar 20-25 cm, dan menyesuai dengan letak kondisi lahan.

Curah Hujan
Kebutuhan air untuk tanaman kedelai sekitar 350 -550 mm. Kekurangan atau kelebihan akan berpengaruh terhadap produksi kedelai, salah satunya bisa menyebabkan polong busuk. Kedelai hanya memerlukan kesedian air yang cukup pada masa stadia awal perkecambahan (vegetatif), stadia berbunga serta pembentukan dan pengisian polong. 

Jika kacang ditanam pada saat curah hujan tinggi, maka jenis tanah yang sangat cocok digunakan untuk budidaya kedelai adalah tanah lempung berpasir. Sebab, jenis tanah pasir mudah menyerap air.

Dari karakteristik lahan kedelai diatas, ternyata kacang kedelai tidak hanya dapat ditanam di daerah subtropika, juga dapat di budidaya pada daerah-daerah iklim tropika. Oleh karenanya, jadikan usaha Anda dengan Budidaya kedelai tropika.

02 Mei 2015

Teknik dan Cara Menanam Kacang Hijau

Kacang hijau (Vigna radiata. L) adalah tanaman sejenis palawija dari golongan kacang-kacangan atau polong-polongan (Fabaceae). Budidaya kacang hijau, tidak jauh berbeda dengan budidaya kacang kedelai (kacang kuning) dan budidaya kacang tanah.

Habitat asli kacang hijau tumbuh baik di daerah/wilayah dataran rendah yang mempunyai iklim tropis atau tropika. Indonesia, sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, berpeluang besar menjadi negara produksi kacang hijau terbesar salah satu di dunia.

Hampir semua bagian-bagian dari tanaman kacang hijau bernilai eknomis, terutama adalah biji kacang hijau. Kacang hijau bermanfaat untuk kehidupan sebagai sumber pangan kaya protein nabatin yang sangat berguna bagi manusia.

Sebagai sumber pangan protein nabatin, kacang hijau diolah dalam berbagai bentuk kuliner dan produk seperti bubur kacang hijau, sop kacang hijau, bubur nasi bayi, kueh kacang hijau, bahan kosmetik kecantikan, dan tentunya sebagai bahan utama bagi industri-industri pembuatan makanan ringan.

Di Indonesia, kacang hijau sangat populer sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Konsumsi kacang hijau di Indonesia, menempati urutan ketiga sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.

Atas gambaran diatas, maka budidaya kacang hijau merupakan salah satu usaha agrobisnis potensial yang layak Anda kembangkan, disamping teknik budidaya kacang hijau yang sangat mudah. Teknik dan Cara Menanam Kacang Hijau, sebagai berikut; 

Syarat Tumbuh
Kacang hijau sangat cocok ditanam pada tanah bertekstur liat berlempung yang banyak mengandung bahan organik, aerasi, serta drainase yang baik. Kacang hijau akan tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur dengan pH 5,8 - 7,0 optimal 6,7.

Iklim
Iklim yang baik untuk budidaya kacang hijau di daerah yang memiliki curah hujan optimal yakni 50-200 mm/bulan. Temperatur 25-27 0C dan kelembaban udara antara 50-80% serta mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Benih dan Varietas Kacang Hijau
Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam baik di lahan sawah maupun area tegalan. Sekarang sudah tersedia beberapa varietas kacang hijau terbaru yang tahan penyakit seperti; Sriti, Perkutut, Kutilang, dan varitas Mural. Jenis-jenis bibit ini sangat dianjurkan untuk ditanam pada daerah yang memiliki endemik penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun. Kebutuhan benih berkisar sekitar 20 kg/ha dengan daya tumbuh mencapai 90%.

Penyiapan Lahan Kacang Hijau
Pada lahan bekas penanaman padi (sawah dan ladang) boleh tidak dilakukan proses TOT dalam penyiapan lahan budidaya kacang hijau. TOT adalah singkatan dari Tanpa Olah Tanah, sebuah istilah yang sering digunakan dalam dunia pertanian.

Budidaya kacang hijau di bekas area penanaman padi, tunggul-tunggul padi perlu dipotong pendek dan dibersihkan. Untuk memperkaya kesuburan tanah, sebaiknya area dilakukan bajak ulang. Apabila tanah becek/kelebihan air, perlu dibuat saluran air atau drainase dengan jarak 3-5 meter.

Apabila kacang hijau dibudidaya pada lahan Tegalan atau bekas tanaman palawija, seperti jagung atau jenis lainnya, perlu dilakukan pengolahan tanah. Lahan dibajak sedalam 15 - 20 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan. Untuk area tegalan, saluran irigasi dibuat dengan jarak berkisar 3 - 5 meter.

Cara Tanam Kacang Hijau
Di Indonesia cara penanaman kacang hijau dilakukan dengan sistem tugal. Setiap lubang dimasukkan dua biji/lubang. Kacang hijau yang penanamannya dilakukan pada musim hujan, sebainya menggunakan pola jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga populasi per hektar bisa mencapai 300 - 400 ribu tanaman/ha. 

Jika penanaman dilakukan pada musim kemarau, disarankan menggunakan pola jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya bisa mencapai 400 - 500 ribu tanaman/ha.

Budidaya kacang hijau pada lahan bekas tanaman padi, proses penanamannya tidak boleh lebih dari 5 hari sesudah padi dipanen. Dan untuk setiap musim; penyulaman yang baik dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari.

Cara Pemupukan Kacang Hijau


Pemupukan Non Organik: 
Untuk lahan yang kurang subur, tanaman kacang hijau diberikan pupuk sebanyak 45 kg Urea ditambah 45 - 90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Pupuk diberikan pada saat tanam, dengan cara di larikan pada sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman.

Pemupukan Organik/Kompos: 
Dewasa ini pupuk organik sangat dianjurkan untuk digunakan oleh para petani. Penggunaan pupuk kandang pada tanaman kacang hijau berkisar 1520 - 1560 ton/ha dan untuk penutup lubang dengan memberikan abu dapur. 

Pada lahan sawah bekas tanaman padi yang subur, tidak perlu dipupuk atau bahan organik, karena para petani dapat memanfaatkan mulsa jerami untuk budidaya kacang hijau. Sebab, penggunaan mulsa jerami dapat menekan serangan hama lalat bibit, pertumbuhan gulma, dan penguapan air. Dosis jerami padi diberikan sebanyak 5 ton/ha.

Penyiangan
Penyiangan yang baik dilakukan dua kali pada saat tanaman sudah berumur 2 dan 4 minggu.

Penyakit Kacang Hijau
Penyakit yang sering menyerang kacang hijau antara lain; bercak daun, busuk batang, embun tepung dan penyakit puru.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit. Pengendalian cara lain dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida dan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 700 atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air.

Pada penyakit Embun Tepung (Erysiphepofygoni) dapat dikendalikan dengan fungisida hexakonal dan diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit bercak daun, efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol, diberikan pada umur kacang hijau 4, 5 dan 6 minggu.

Pengendalian hama
Hama utama kacang hijau adalah Lalat Kacang (Agmmyxa phaseoti), Ulat Jengkal (Piusia chaitites), Kepik Hijau (Nezara virfduta), Kepik Coklat (Riptonus tinearis), dan Penggerek Polong (Maruca testutalis), Kutu Thrips dan lain-lain.

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Seperti Cwifldor, Regent, Curacron, Atabnon, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/liter air dan volume semprot 5OIM>00 liter/ha.

Pada daerah yang memiliki endemik Lalat Bibit (Agromyza phaseoti) proses penanganan benih harus dilakukan secara baik. Pengendalian lalat bibit dapat menggunakanI Insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipnonil (5 cc/kg benih).


Penanganan Panen
Secara umum, kacang hijau mulai dapat dipanen apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat. Dapat ditandain dengan berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering.

Penanganan panen kacang hijau tidak boleh terlambat. Apabila keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat di lapangan. Panen dengan cara dipetik dan polong segera dijemur selama 2-3 hari hingga kulit mudah terbuka.

Penjemuran diterik matahari mempermudah saat proses pembijian. Pembijian secara tradisional, biasanya dilakukan dengan cara dipukul (bub-bub). Pemukulan bisanya dilakukan dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji kacang hijau dari kotoran dengan menggunakan alat tampah atau tampir. Setelah kacang hijau ditampah, biji segera dijemur lagi sampai kering.

Jika penanganan panen kacang hijau dalam skala yang besar, penggunaan alat tampah/tampir tentu sangat merepotkan, membutuhkan tenaga manusia yang sangat dan tidak ekonomis. 

Untuk penanganan hasil panen kacang hijau dalam jumlah besar, dapat menggunakan mesin perontok kacang hijau (pemolong), dan untuk menjaga kwalitas biji kacang tidak rusak, sebaiknya menggunakan mesin perotok spek tinggi, irit dan ramah lingkungan.   

28 April 2015

Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kedelai

Hama Ulat Grayak pada tanaman kedelai
Penerapan budi daya tanaman menggunakan teknologi inovasi baru di bidang pertanian, sudah menjadi keharusan dilaksanakan, kalau Indonesia ingin bersaing dengan negara lain yang maju dalam sektor pertanian.

Melalui penerapan teknologi maju (green revolution), diharapan dapat meningkatkan penyediaan bahan pangan nasional yang memadai, terutama tanaman pangan seperti padi dan kedelai. 
Namun, dalam budidaya kedelai, hal yang sering menjadi kendala bagi petani adalah dalam masalah pengendalian gulma dan hama, diantaranya dalam Budidaya Kedelai Tropika. 

Berikut tips ampuh dalam pengendalian gulma dam hama pada tanaman kedelai yang diracik dari berbagai penelitian, dan dipadu dengan pengalaman para petani kedelai.

Pengendalian Gulma dan Penyakit Pada Tanaman Kedelai:

Tanaman kedelai yang ditanam di lahan sawah (sesudah tanaman padi), untuk mencegah bermunculan gulma dapat mengunakan mulsa jerami, jumlah jerami sekitar 5 ton per hektar dengan ketebalan lebih kurang 5-8 cm. Dengan menggunakan cara ini, dapat menekan perkembangan gulma 60-65 persen pada sawah yang tidak melakukan proses membajak. Pada sawah yang dilakukan proses membajak atau mencakul ulang setelah padi panen, pertumbuhan gulam dapat ditekan sampai 90 persen.

Pengendalian gulma pada tanaman kedelai, dapat dilakukan sebanyak 2 kali yaitu, sebelum masa berbunga dan pada masa pratumbuh (4-5 hari sebelum tanam). Pada masa pratumbuh, penggunaan herbisida sangat dianjurkan.
Pengendalian hama pada tanaman kedelai juga dapat dilakukan secara terpadu. Misalnya, untuk mengurangi hama ulat grayak dapat dilakukan dengan cara menanam jagung atau kacang hijau, sebanyak 5% yang ditanaman secara acak atau satu baris dalam petakan lahan pertanaman kedelai.

Pengendalian hama pada tanaman kedelai, dapat dilakukan pengendalian secara hayati (biologis) dan pertisida. Pengendalian secara hayati adalah menggunakan musuh alami yang terdiri dari parasitoid, patogen, dan predator. Untuk menekan populasi ulat grayak tanaman kedelai, sangat efektif dengan menggunakan sex peramon sebanyak 6 trap bekas botol air mineral untuk setiap hektar.

Pengendalian hama tanaman dengan pertisida sangat tidak dianjurkan. Penggunaan pestisida adalah pilihan akhir, jika pengendalian cara lain tidak mampu menekan jumlah hama yang menyerang tanaman kedelai. 

"Pengendalian hama dan penyakit dengan pertisida harus dilakukan dengan bijaksana, agar musuh alamiah tetap bisa berlangsung".
Kebanyakan para petani kedelai, untuk mengendalian hama lalat bibit menggunakan insektisida dengan cara dioleskan pada biji kedelai. Sedangkan dalam menangani hama ulat daun, pada umumnya para petani menggunakan insektisida kontak, saat hama berada pada tahap stadia awal (I-II).

Hati-hati menggunakan insektisida, apabila pemberian insektisida dilakukan melebih dosis yang dianjurkan, hama bisa menjadi kebal. Dengan terjadinya kekebalan maka hama tidak mati atau berkurang.

Sementara, penggunaan insektisida dengan takaran yang rendah bisa menjadi masalah. Karena, dapat menyebabkan hama bertambah subur dan cenderung cepat berkembang biak.

26 April 2015

Budidaya Kedelai Tropika

Kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu dan tempe. Tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.

Kedelai merupakan sumber utama protein nabatin dan minyak nabatin dunia. Kacang kedelai salah satu tumbuhan yang memiliki protein sangat besar dengan kadar protein 11 kali lebih banyak dari susu, 2 kali lebih banyak dari danging dan ikan, dan mengandung lecithin.


Kacang kedelai termasuk dalam famili leguminosae. Di Indonesia, kedelai termasuk komoditas prioritas dalam program revitalisasi pertanian. Sampai saat ini, kedelai bisa dikatakan masih menjadi komoditas yang sangat dibutuhkan dalam memenuhi pangan nasional.


Selama 10 tahun terakhir, diketahui perkembangan area tanam kedelai Indonesia di tingkat dunia masih berada di bawah Amerika Serikat, Brasil, dan India.


Budidaya kedelai, memang sangat cocok ditanam di daerah atau kawasan tropis. Tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi, kedelai dapat juga ditanam di daerah subtropis. Sudah tentu, untuk memaksimalkan produksi yang tinggi dan berkwalitasi baik harus tersedia varietas unggul.

Oleh karena itu, perlu diketahui morfologi tanaman kedelai seperti organ biji, batang, daun, bunga dan polong kedelai.

1. Biji Kedelai

  • Bentuk biji: Biji kedelai ada yang berbentuk bulat, agak gepeng, atau bulat telur. Namun, sebagian besar biji kedelai berbentuk bulat telur.
  • Ukuran biji: Ukuran dan warna biji kedelai juga tidak sama, tetapi sebagian besar berwarna kuning dan ukuran biji kedelai berbeda-beda. Biji kedelai kecil berukuran (<10g/100 biji), biji sedang (10-12 gram/100 biji), dan biji besar berukuran (13-18 gram/100 bij)
2. Batang Kedelai
Batang pada tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang tidak bercabang, sangat tergantung dari karakter varietas kedelai, tetapi umumnya cabang pada tanaman kedelai berjumlah antara 1-5 cabang.
3. Daun Kedelai
Daun kedelai hampir seluruhnya trifoliat (menjadi tiga) dan jarang sekali mempuyai empat atau lima jari daun. Bentuk daun tanaman kedelai bervariasai, yakni berbentuk oval dan lanceolate atau berdaun lebar (broad leaf) dan berdaun sempit (narrow leat).

Di Indonesia, kedelai berdaun sempit lebih banyak ditanam oleh petani dibandingkan tanaman berdaun lebat. Keunggulan kedelai berdaun sempit, karena sinar matahari akan lebih mudah menerobos di antara kanopi daun sehingga mempercepat pembentukan bunga.

4. Bunga Kedelai
Bunga pada tanaman kedelai umumnya muncul/tumbuh pada ketiak daun, tetapi terkadang bunga dapat pula terbentuk pada cabang tanaman yang mempunyai daun. Pada kondisi lingkungan dan populasi yang optimal, bunga kedelai akan terbentuk mulai dari tangkai daun yang paling bawah, dan potensi jumlah bunga sangat tergantung dari varietas kedelai. 

Pada umumnya jumlah bunga antara 40-200 bunga per tanaman kedelai, dan umumnya di tengah pertumbuhannya tanaman kedelai kerap kali mengalami kerontokan bunga. Jika kerontokan bunga kedelai berkisar 20-40 persen termasuk dalam kategori wajar, hal itu berdasarkan hasil sebuah penelitian.


5. Polong Kedelai

Pada umumnya, polong kedelai pertama kali muncul sekitar 10-14 hari masa pertumbuhan, dihitung dari bunga pertama muncul. Adapun warna polong yang baru tumbul berwarna hijau dan selanjutnya akan berubah menjadi kuning-cokelat pada saat dipanen.

Adapun jumlah polong yang terbentuk beragam, yakni antara 2-10 polong pada setiap kelompok bunga diketiak daun. Sementara jumlah polong yang dapat dipanen diperkirakan berkisar antara 20-200 polong pertanaman. Jumlah polong sangat tergantung pada varietas kedelai yang ditanam, kesuburan lahan dan kondisi tumbuh.


Oleh karena itu, sukses atau tidaknya budidaya kedelai sangat tergantung penggunaan bibit yang digunakan. Dengan penggunaan bibit kedelai unggul, bisa memperoleh hasil 2 ton per hektar. Penggunaan varietas kedelai unggul menjadi keharusan untuk dipilih, disamping komponen penting lainnya seperti, pemelihan dan penyiapan lahan kedelai, iklim, waktu tanam dan cara tanam, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit, penanganan hasil dan paska panen kedelai.


Ciri-ciri varietas kedelai unggul, dapat dibaca pada artikel: Ciri-Ciri Varietas Kedelai Unggul.

Hortikultura

[Hortikultura][recentbylabel2]

Info Pertanian

[Pertanian][recentbylabel2]
Notification
Dapatkan infomasi terbaru seputar petanian.
Done