Pola Tani: Agribisnis
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Agribisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agribisnis. Tampilkan semua postingan

09 Desember 2019

Cara Budidaya Cabai di Polybag dan Perawatannya

Cara budidaya cabai di polybag – Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan cabai? Cabai adalah jenis tanaman sayuran atau bisa juga disebut juga bumbu, cabai pada umumnya rasanya pedas. Rasa pedas pada cabai termasuk ada tingkatan-tingkatannya, ada yang dari tidak pedas, pedas sedang hingga rasa yang sangat pedas, namun ada juga cabai yang rasanya tidak pedas. Karena jenis cabai ada yang jenis cabai bumbu ada juga jenis cabai sayuran.

Cara Budidaya Cabai di Polybag dan Perawatannya

Untuk budidaya cabai tidaklah rumit atau sulit, budidaya cabai dapat dilakukan dimana saja baik itu dataran tinggi, dataran sedang hingga dataran rendah. Media untuk budidaya cabai pun juga ada banyak medianya yaitu media lahan bedeng, lahan pot, polybag, pekarangan rumah dan masih banyak yang lainnya. Untuk itu buat apa Anda bingung soal tempat untuk mencoba budidaya cabai ,sangat mudah kox. Simaklah ulasan berikut ini tentang cara budidaya cabai di polybag.

Untuk cara budidaya cabai di polybag tidaklah rumit dan juga tidak memakan tempat yang luas. Cara ini sangat simpel untuk siapapun yang ingin budidaya cabai akan tetapi tidak mempunyai lahan yang luas. Coba Anda bayangkan! Jika harga cabai saat melonjak tajam tapi keuangan menipis padahal apa-apa juga mahal. Sayang kan uangnya, lagian kebutuhan yang lainnya juga mendesak. Mendingan budidaya cabai sendiri untuk memangkas pengeluaran. Lumayan bisa buat tambah tabungan.


Langkah-langkah Cara Budidaya Cabai Di Polybag

Untuk menanam atau cara budidaya cabai di polybag, membutuhkan beberapa tahap-tahapan antara lain : persiapan bahan, pengolahan tempat, penanaman dan perawatan Langsung saja, mari kita bahas bersama-sama.

A. Bahan-bahan

Bibit tanaman cabai minimal berusia 4 minggu dari penyemaian. Pilihlah bibit cabai yang bagus dan baik dengan kriteria daun 4 lembar hingga 6 lembar. Bibit berdiri dengan tegak.

Plastik polybag, plastik polybag sangat mudah untuk didapatkan yaitu bisa di beli pada toko-toko pertanian dimanapun Anda berada.

Tanah yang gembur yaitu dengan ciri-ciri tanahnya lembut berdebu seperti pasir. Pupuk kompos (pupuk kandang) atau pupuk urea, pupuk KCL.

B. Pengolahan

Olah semua bahan-bahan yang sudah dipersiapkan yaitu tanah dicampur dengan pupuk kandang atau pupuk urea dengan perbandingan 1:1. Setelah itu pada campuran yang sudah dicampur maka ditakar dalam setiap 1 polybag perlu ditambahkan 1 sendok makan pupuk KCL agar tanah menjadi semakin gembur dan subur. Setelah semuanya tercampur dengan rata maka masukkan campuran bahan tersebut ke dalam plastik polybag.

C. Penanaman

Sebelum dilakukan proses penanaman alangkah baiknya tanah di dalam polybag disiram terlebih dahulu menggunakan air biasa agar tanah menjadi lembab dan mudah untuk bertumbuh akar tanaman namun proses penanaman tersebut jangan terlalu lembab atau becek karena justru dapat menyebabkan tanaman akan mati atau membusuk. Setelah penyiraman selesai maka langkah selanjutnya yaitu bibit siap untuk ditanam pada media polybag.

D. Perawatan

Untuk perawatan tanaman cabai pada polybag ialah cukup simpel. Berikut ulasan beserta keterangannya dibawah ini:

Setelah usia tanaman sekitar 10 hari maka perlu dilakukan penyiraman menggunakan air yang dicampur dengan pupuk kandang, KCL, dan pupuk urea. Siramkanlah campuran air tersebut kedalam tanah yang terdapat pada polybag. Penyiraman dilakukan setiap 2 minggu sekali secara rutin hingga tanaman cabai bertumbuh bunga-bunga kecil.

Pada usia tanaman menanjak 1 bulan maka pada sisi polybag sebaiknya diberi ajir atau lanjaran, ajir atau lanjaran ditancapkan pada sisi polybag kemudian kaitkan ajir tersebut dengan tanaman cabai menggunakan tali.

Jika tanaman cabai sudah mulai bertumbuh bunga maka langkah selanjutnya yaitu disemprot menggunakan air yang dicampur dengan obat anti hama dan juga penyubur untuk tanaman dan buah cabai.

Setelah cabai siap untuk dipanen maka lakukanlah proses panen dengan jangka waktu 5 hari sekali seterusnya hingga cabai tidak bertumbuh lagi.

Lakukan penyemprotan pada tanaman sehari setelah cabai dipanen. Penyemprotan dilakukan menggunakan air yang ditambahkan obat anti hama, anti ulat dan yang pasti juga ditambahkan obat penyubur untuk buah cabai.

Sekarang untuk bumbu memasak tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam. Cukup Anda petik di depan rumah atau dipekarangan rumah tempat untuk meletakkan polybag tersebut. Kalo sudah mulai panen jangan lupa berbagi pada tetangga ya!!! Biar berkah. 

Sekian pembahasan kami kali ini tentang cara budidaya cabai di polybag, semoga dapat bermanfaat dan menambah sedikit wawasan bagi para pembaca semuanya. 

Referensi: Belajarberkebun.com

18 Mei 2015

Pola Sukses Menanam Jeruk Sunkist

Indonesia salah satu negara di dunia yang memiliki iklim tropis dengan curah hujan tinggi dengan penyebarannya hampir merata disetiap tahun. Kesuburan tanah nusantara, terbentang luas dari Sabang sampai Meuroke. Boleh dibilang apa saja yang ditanam akan tumbuh, salah satu tanaman jeruk Sunkist.

Buah Jeruk Sunkist-Polatani.com/imgbuddy
Jeruk Sunkist adalah tanaman buah, rasa manis dan berwarna buah oranye. Termasuk salah satu jenis jeruk yang populer diberbagai negara, termasuk di Indonesia. Maka tak heran kalau buah sunkist mudah didapat, baik di supermarket hingga pasar tradisional.
Kenapa buah jeruk sunkist selalu ada disepanjang tahunnya. Karena budidaya tanaman asal California, Arizona mudah dilakukan dan tidak terlalu menuntut banyak hal untuk bisa tumbuh dan berbuah, asalkan pola tanam jeruk sunkist dilakukan dengan benar serta dilakukan perawatan dengan baik. 
Maka tidak berlebihan jika jeruk menjadi komoditas buah unggulan nasional karena memiliki nilai ekonomi tinggi, adaptasinya sangat luas, sangat populer dan digemari hampir seluruh lapisan masyarakat, dan nilai impornya cenderung meningkat. Tanaman dan buah jeruk juga banyak manfaatnya, seperti manfaat dan khasiat jeruk nipis bagi kesehatan. 

Kunci sukses usahatani jeruk tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi, penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman.

Tips praktis menanan jeruk sunkist ini, semoga menjadi panduan bagi Anda yang berminat menanam jeruk sunkist dalam pot atau tabulapot. Menanam dalam pot biasanya dilakukan diperkarangan rumah, salah satu pola menanam yang lagi tren dewasa ini. 

Istilahnya, tanam sendiri, petik sendiri dan makan sendiri, cara seperti ini tentu lebih aman dikonsumsi dan tentu lebih asyik dong. Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam menanam jeruk sunkist, antara lain:

Iklim dan Syarat Tumbuh Sunkis
Temperatur/suhu optimal untuk pertumbuhan berkisar 25-30 ºC dan kelembaban optimum berkisar antara 70-80%. Jenis tanah yang disukai sunkist adalah lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi liat 7-27%, debu 25-50%, dan pasir < 50%; cukup humus; serta memiliki tata air dan udara baik. Menurut riset, tanah yang sangat cocok untuk budidaya sunkist, yaitu jenis tanah Andosol dan Latosol dengan pH 5,5-6,5. 

Pemilihan Bibit Sunkist
Umumnya bibit sunkist  berasal dari perbanyakan vegetatif berupa penyambungan tunas pucuk. Bibit yang baik adalah bebas dari penyakit, mirip dengan induknya (true to type), batang berdiameter sekitar 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut banyak, akar tunggang berukuran sedang dan tentunya memiliki sertifikasi penangkaran bibit. Oleh karena itu, berhati-hati membeli bibit.

Ciri-ciri bibit Sunkist yang baik, antara lain. 
  • Pilih bibit asal okulasi dengan 1 cabang dari mata tunas tempel. 
  • Tinggi bibit berkisar 40-60 cm dengan umur sekitar 3-6 bulan.
  • Bibit yang telah berbuah akan lebih bagus, tetapi umumnya lebih mahal dibandingkan bibit yang belum berbuah. 
  • Pastikan bibit terbebas dari vektor dan penyakit utama.
Tahap Menanam Tabulampot
  • Pilih pot ukuran yang tepat dengan lubang drainase yang memadai, misalnya pot plastic diameter 35 cm.
  • Gunakan campuran tanah yang ringan sehingga air dapat mengalir dengan baik, misalnya berupa campuran tanah merah dengan pupuk kandang (50%:50%).
  • Tanam pohon sehingga leher akar berada di atas garis tanah. 
  • Saat ditanam jangan menutupi batang dengan tanah.
  • Tekan tanah di sekitar bola akar untuk memberikan stabilitas air.
  • Ikat tanaman pada kayu pancang dengan ikatan longgar jika diperlukan untuk menegakan tanaman dan mencegah tanaman roboh.
  • Tempatkan pot di area yang bisa terkena sinar matahari langsung, minimal penerimaan cahaya matahari 8 jam per hari.
  • Mengingat media tanam dalam pot mudah sekali kering karena penguapan, sebaiknya penyiraman dilakukan secara rutin, sehari dua kali. Namun, jika media tanam masih terlihat basah, tidak perlu dilakukan penyiraman.
  • Penggantian media tanam dengan media pot campuran tanah segar dilakukan setiap tahun atau dua tahun sekali agar nutrisi untuk tanah tetap tersedia.
Cara perawatan sunkist agar rajin berbuah

Agar rajin berbuah, tanaman sunkist perlu dipelihara dengan baik, terutama penyiraman, penggemburan, pemupukan, dan pemangkasan. Sebaiknya penyiraman dilakukan secara rutin, tetapi jangan sampai menggenangi batang akar. Cara lain untuk memicu pembentukan buah adalah dengan pemangkasan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh, biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. 

Tunas lainnya sebaiknya dipangkas. Demikian juga pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam klorox/alcohol untuk menghindari inveksi pada luka batang bekas pangkasan.

Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya. Pada saat pemupukan, juga dilakukan penyiangan. Pemupukan secara berkala juga sangat penting untuk memicu pembentukan bunga dan buah. 

Agar tanaman sunkis tumbuh baik dan berbuat, proses pemupukan harus benar-benar terpola tepat waktu dengan dosis yang sesuai. Utamakan menggunakan pupuk kompos atau pupuk alami. Pola sukses menanam jeruk Sunkist  berguna bagi Anda.

Selain jeruk Sunkist, ada juga jeruk lokal yang cocok untuk ditanam, seperti jeruk Keprok, jeruk Siem, jeruk Lemon atau jeruk Sitrun, jeruk Nipis, jeruk Purut, jeruk sambal, dan berbagai jenis jeruk lainnya.

03 Mei 2015

Teknik Budidaya Jahe

jahe merah / woodlandgardensorganic.com
Potensi budidaya jahe potensi yang luar biasa. Jahe bisa ditanam dimana saja asal memenuhi syarat tumbuh. Penanaman dalam skala dilakukan di area yang luas. Bagi yang belum memiliki lahan yang luas bisa ditanam dalam perkarangan rumah dengan menggunakan metode vertikultur dan polybag/karung. Teknik Budidaya Jahe berikut ini semoga dapat menjadi pedoman bagi Anda.

PERSYARATAN TUMBUH
Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut: 

Iklim tipe A, B dan C (Schmidt dan ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl dengan temperatur rata-rata tahunan 25 - 30º C, jumlah bulan basah (> 100 mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm, intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 - 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah.

Pada lahan dengan kemiringan > 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. 

Persyaratan lahan lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases) terutama bakteri layu dan nematoda. Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.

BAHAN TANAMAN
Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk, beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu Jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. 

Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20 – 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. 

Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 – 11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.

Jahe merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. 

Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha. Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.

PEMBENIHAN
Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. 

Beberapa penyakit penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematoda (Rhodopolus similis) dan lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan.

Pemilihan benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang penyimpanan. Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas.

Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25 - 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.

Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. 

Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.

BUDIDAYA
Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.

Persiapan lahan
Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk.

Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur tumbuhnya.

Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), sistim guludan atau dengan sistim pris (parit). Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.

Jarak tanam
Benih jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Pemupukan
Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis pupuk buatan SP-36 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400 kg/ha, diberikan pada saat tanam. 

Pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha, masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Berikut langkah-langkah atau teknik pemeliharaan jahe:


a. Penyiangan gulma
Sampai tanaman berumur 6 - 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif secara bersih. Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.

b. Penyulaman
Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 – 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.

c. Pembumbunan / pendangiran
Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah. Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, drainase akan selalu terpelihara.

d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman
Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum).

Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. 
"Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT". 
Hama yang cukup signifikan menyerang tanaman jehe adalah lalat rimpang Mimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan.

Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin.

POLA TANAM
Untuk meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan tanaman sayuran, sesuai dengan kondisi lahan.

PANEN
Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. Tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel dibersihkan.

Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.

Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI).

Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikatagorikan sebagai berikut:

  • Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
  • Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
  • Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%.
PASCA PANEN
Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal 1 – 4 mm.

Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36 – 46° C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. 

Selain itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 - 10%.

Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik, dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.

PENGANEKARAGAMAN PRODUK
Selain simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak atsiri, oleoresin, bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe, jahe kristal dan anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor yang potensial, dibuat dari jahe putih besar yang dipanen muda (3 bulan), dengan kadar serat rendah.

Sedangkan permen jahe, manisan, sirup, instant, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yang dipanen tua. Selain untuk bahan baku obat tradisional (jamu), jahe sudah mulai digunakan untuk obat fitofarmaka karena kandungan gingerolnya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot dan sendi.

USAHA TANI
Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor produksi didalam budidaya perlu diperhitungkan. Berikut adalah analisis usahatani jahe dengan menggunakan calon varietas unggul dan budidaya anjuran Balittro.

Di Jamaica, "jahe" yang baru dipungut segera dilempar ke dalam bak-bak air, kemudian diobok-obok supaya bersih sendiri. Kalau anda pengusaha perkebunan hasilnya untuk eksport, umbi "jahe" tadi harus bersih pula dari kulit-kulit selaput luarnya.

Di Jamaica terkenal sebagai produsen "jahe" kering yang paling bagus, orang mengupas kulit selaput terluarnya dengan tangan setelah "jahe-jahe" tadi direndam dalam air panas. Setelah dikupas dimasukkan lagi ke dalam air, untuk dicuci sekali lagi sampai bersih. Kemudian "jahe" yang sudah bersih tadi direndam air lagi selama satu malam. Kadang-kadang dalam bak-bak perendam ini juga dibubuhkan air jeruk nipis, supaya warna "jahe" itu tetap muda. Sesudah itu semuanya dikeringkan diatas tikar disinar matahari sehari penuh, kalau sudah sore dimasukkan ke gudang kering.

Setelah dikeringkan begini selama 7 hari, biasanya "jahe" sudah cukup kering. Dan beratnya kira-kira tinggal 70% saja dari berat semula. Namun kadar sari "jahe"nya masih ada kira-kira 12% dan kualitasnya dipandang bagus, sehingga laku untuk dijual.

"Jahe" yang dianggap berkualitas tinggi memang "jahe-jahe" besar dan bersih, tapi tidak kering, bagian dalamnya tidak ada bagian-bagian yang patah dan tidak keriput.

"Jahe" termasuk dalam tanaman obat berkhasiat sekaligus bumbu penyedap masakan. "Jahe" juga diketahui memiliki kandungan anti nyeri alamiah sehingga cukup banyak orang yang menggunakan minyak "jahe" sebagai pereda nyeri dan juga bengkak.

#referensi:
http://balittro.litbang.pertanian.go.id/

Potensi Budidaya Jahe

Tanaman Jahe Bibit Unggul dan Super
Jahe adalah salah satu jenis tanaman berkhasiat untuk kesehatan sebagai tanaman rempah-rempah yang menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka. Menurut sejarah jahe di wikipedia, tanaman ini diperkirakan berasal dari India. Namun ada pula yang mempercayai jahe berasal dari Republik Rakyat Tiongkok Selatan. Dari India, jahe dibawa sebagai rempah perdagangan hingga Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, hingga Timur Tengah. Kemudian pada zaman kolonialisme, jahe yang bisa memberikan rasa hangat dan pedas pada makanan segera menjadi komoditas yang populer di Eropa.

Jahe (Zingiberceace officinale) adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Jahe berasal dari Asia Pasifik dari China sampai India. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai salah satu bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama untuk bahan minuman, bumbu dapur dan juga bahan baku obat.

Indonesia, merupakan salah satu negara ekspor komoditas terbesar rempah-rempah di dunia. Sampai saat ini, jahe bisa dikatakan menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia. Selama 10 tahun terakhir, diketahui bahwa perkembangan luas area jahe di Indonesia terus mengalami peningkatan. 
Perluasan area jahe masih terpusat di pulau Jawa, belum menyebar keseluruh pelosok Nusantara. Padahal untuk pengembangan area jahe bisa dilakukan di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau Papua, dari Sabang sampai Meuroke.
Menanam jahe memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Hal ini dapat dilihat di harga pasar, hal ini tentu memberikan hikmah kepada kita untuk berpikir kembali untuk perkembangan tanaman jahe secara meluas. Persepsi di tengah-tengah masyarakat yang beranggapan bahwa jahe tidak cocok untuk ditanam pada semua iklim, sebenarnya tidaklah salah. Tetapi, saat ini telah banyak varietas jahe unggul yang dapat beradaptasi dan cocok ditanam dilingkungan manapun. 

Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya jahe yang optimal diperlukan bahan pedoman supaya dapat memperoleh hasil berkwalitas dan bermutu baik. Dalam rangka menjaga nilai tawar jahe di pasar tidak rusak, maka budidaya jahe dapat mendukung Good Agricultural Practices (GAP).

Bagi Anda yang berminat untuk melakukan Budidaya Jahe dengan memperoleh hasil yang optimal, maka perlu mempelajari Teknik Budidaya Jahe, apakah Anda ingin menanam jahe gajah, jahe putih, jahe merah, jahe badak, jahe kuning kecil (emprit) atau jahe kuning. Yang pasti semua jahe baik dibudidayakan di tanah Indonesia.

02 Mei 2015

Teknik dan Cara Menanam Kacang Hijau

Kacang hijau (Vigna radiata. L) adalah tanaman sejenis palawija dari golongan kacang-kacangan atau polong-polongan (Fabaceae). Budidaya kacang hijau, tidak jauh berbeda dengan budidaya kacang kedelai (kacang kuning) dan budidaya kacang tanah.

Habitat asli kacang hijau tumbuh baik di daerah/wilayah dataran rendah yang mempunyai iklim tropis atau tropika. Indonesia, sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, berpeluang besar menjadi negara produksi kacang hijau terbesar salah satu di dunia.

Hampir semua bagian-bagian dari tanaman kacang hijau bernilai eknomis, terutama adalah biji kacang hijau. Kacang hijau bermanfaat untuk kehidupan sebagai sumber pangan kaya protein nabatin yang sangat berguna bagi manusia.

Sebagai sumber pangan protein nabatin, kacang hijau diolah dalam berbagai bentuk kuliner dan produk seperti bubur kacang hijau, sop kacang hijau, bubur nasi bayi, kueh kacang hijau, bahan kosmetik kecantikan, dan tentunya sebagai bahan utama bagi industri-industri pembuatan makanan ringan.

Di Indonesia, kacang hijau sangat populer sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Konsumsi kacang hijau di Indonesia, menempati urutan ketiga sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.

Atas gambaran diatas, maka budidaya kacang hijau merupakan salah satu usaha agrobisnis potensial yang layak Anda kembangkan, disamping teknik budidaya kacang hijau yang sangat mudah. Teknik dan Cara Menanam Kacang Hijau, sebagai berikut; 

Syarat Tumbuh
Kacang hijau sangat cocok ditanam pada tanah bertekstur liat berlempung yang banyak mengandung bahan organik, aerasi, serta drainase yang baik. Kacang hijau akan tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur dengan pH 5,8 - 7,0 optimal 6,7.

Iklim
Iklim yang baik untuk budidaya kacang hijau di daerah yang memiliki curah hujan optimal yakni 50-200 mm/bulan. Temperatur 25-27 0C dan kelembaban udara antara 50-80% serta mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Benih dan Varietas Kacang Hijau
Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam baik di lahan sawah maupun area tegalan. Sekarang sudah tersedia beberapa varietas kacang hijau terbaru yang tahan penyakit seperti; Sriti, Perkutut, Kutilang, dan varitas Mural. Jenis-jenis bibit ini sangat dianjurkan untuk ditanam pada daerah yang memiliki endemik penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun. Kebutuhan benih berkisar sekitar 20 kg/ha dengan daya tumbuh mencapai 90%.

Penyiapan Lahan Kacang Hijau
Pada lahan bekas penanaman padi (sawah dan ladang) boleh tidak dilakukan proses TOT dalam penyiapan lahan budidaya kacang hijau. TOT adalah singkatan dari Tanpa Olah Tanah, sebuah istilah yang sering digunakan dalam dunia pertanian.

Budidaya kacang hijau di bekas area penanaman padi, tunggul-tunggul padi perlu dipotong pendek dan dibersihkan. Untuk memperkaya kesuburan tanah, sebaiknya area dilakukan bajak ulang. Apabila tanah becek/kelebihan air, perlu dibuat saluran air atau drainase dengan jarak 3-5 meter.

Apabila kacang hijau dibudidaya pada lahan Tegalan atau bekas tanaman palawija, seperti jagung atau jenis lainnya, perlu dilakukan pengolahan tanah. Lahan dibajak sedalam 15 - 20 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan. Untuk area tegalan, saluran irigasi dibuat dengan jarak berkisar 3 - 5 meter.

Cara Tanam Kacang Hijau
Di Indonesia cara penanaman kacang hijau dilakukan dengan sistem tugal. Setiap lubang dimasukkan dua biji/lubang. Kacang hijau yang penanamannya dilakukan pada musim hujan, sebainya menggunakan pola jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga populasi per hektar bisa mencapai 300 - 400 ribu tanaman/ha. 

Jika penanaman dilakukan pada musim kemarau, disarankan menggunakan pola jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya bisa mencapai 400 - 500 ribu tanaman/ha.

Budidaya kacang hijau pada lahan bekas tanaman padi, proses penanamannya tidak boleh lebih dari 5 hari sesudah padi dipanen. Dan untuk setiap musim; penyulaman yang baik dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari.

Cara Pemupukan Kacang Hijau


Pemupukan Non Organik: 
Untuk lahan yang kurang subur, tanaman kacang hijau diberikan pupuk sebanyak 45 kg Urea ditambah 45 - 90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Pupuk diberikan pada saat tanam, dengan cara di larikan pada sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman.

Pemupukan Organik/Kompos: 
Dewasa ini pupuk organik sangat dianjurkan untuk digunakan oleh para petani. Penggunaan pupuk kandang pada tanaman kacang hijau berkisar 1520 - 1560 ton/ha dan untuk penutup lubang dengan memberikan abu dapur. 

Pada lahan sawah bekas tanaman padi yang subur, tidak perlu dipupuk atau bahan organik, karena para petani dapat memanfaatkan mulsa jerami untuk budidaya kacang hijau. Sebab, penggunaan mulsa jerami dapat menekan serangan hama lalat bibit, pertumbuhan gulma, dan penguapan air. Dosis jerami padi diberikan sebanyak 5 ton/ha.

Penyiangan
Penyiangan yang baik dilakukan dua kali pada saat tanaman sudah berumur 2 dan 4 minggu.

Penyakit Kacang Hijau
Penyakit yang sering menyerang kacang hijau antara lain; bercak daun, busuk batang, embun tepung dan penyakit puru.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit. Pengendalian cara lain dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida dan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 700 atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air.

Pada penyakit Embun Tepung (Erysiphepofygoni) dapat dikendalikan dengan fungisida hexakonal dan diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit bercak daun, efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol, diberikan pada umur kacang hijau 4, 5 dan 6 minggu.

Pengendalian hama
Hama utama kacang hijau adalah Lalat Kacang (Agmmyxa phaseoti), Ulat Jengkal (Piusia chaitites), Kepik Hijau (Nezara virfduta), Kepik Coklat (Riptonus tinearis), dan Penggerek Polong (Maruca testutalis), Kutu Thrips dan lain-lain.

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Seperti Cwifldor, Regent, Curacron, Atabnon, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/liter air dan volume semprot 5OIM>00 liter/ha.

Pada daerah yang memiliki endemik Lalat Bibit (Agromyza phaseoti) proses penanganan benih harus dilakukan secara baik. Pengendalian lalat bibit dapat menggunakanI Insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipnonil (5 cc/kg benih).


Penanganan Panen
Secara umum, kacang hijau mulai dapat dipanen apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat. Dapat ditandain dengan berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering.

Penanganan panen kacang hijau tidak boleh terlambat. Apabila keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat di lapangan. Panen dengan cara dipetik dan polong segera dijemur selama 2-3 hari hingga kulit mudah terbuka.

Penjemuran diterik matahari mempermudah saat proses pembijian. Pembijian secara tradisional, biasanya dilakukan dengan cara dipukul (bub-bub). Pemukulan bisanya dilakukan dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji kacang hijau dari kotoran dengan menggunakan alat tampah atau tampir. Setelah kacang hijau ditampah, biji segera dijemur lagi sampai kering.

Jika penanganan panen kacang hijau dalam skala yang besar, penggunaan alat tampah/tampir tentu sangat merepotkan, membutuhkan tenaga manusia yang sangat dan tidak ekonomis. 

Untuk penanganan hasil panen kacang hijau dalam jumlah besar, dapat menggunakan mesin perontok kacang hijau (pemolong), dan untuk menjaga kwalitas biji kacang tidak rusak, sebaiknya menggunakan mesin perotok spek tinggi, irit dan ramah lingkungan.   

01 Mei 2015

Tips Memilih Benih Cabai Rawit dari Buah Tanaman

benih unggul bibit cabai rawit - varitas-net
Budidaya tanaman cabai rawit, termasuk usaha yang selalu menggiurkan. Karena harga cabai rawit pada musim tertentu bisa menjadi super mahal, sehingga menjadi salah satu agribisnis yang banyak digemari para petani dewasa ini. 

Budidaya cabai rawit tergolong mudah dilakukan, bila dibandingkan dengan budidaya cabai keriting, cabai hijau dan cabai merah. Untuk sukses dan hasil yang optimal, tentu banyak hal yang harus dipelajari tentang budidaya cabai rawit. 
Syarat-syarat tumbuh cabai rawit harus benar-benar dapat dipahami. Diantaranya, kondisi iklim, persiapan lahan, pemilihan benih, perawatan cabai, hama dan penyakit cabai, sampai pada proses penanganan panen dan paska panen.
Tahapan awal yang sangat menentukan dalam budidaya cabai rawit yaitu, pemilihan benih cabai rawit yang baik. Untuk mendapatkan benih unggul cabai rawit, dewasa ini sudah tersedia benih cabai rawit hibrida. Benih unggul cabai rawit bisa didapatkan melalui Balai Pembibitan Pemerintah, atau dengan membeli didepot atau tokoh-toko pertanian.

Bila bibit unggul cabai rawit sulit didapat, karena stock dipasar lagi habis, atau harganya yang terlalu tinggi. Tak usah persimis, karena kita bisa memproduksi atau menyorti sendiri melalui buah cabai rawit dari tanamannya. Berikut; tips menyeleksi benih cabai rawit dari buah tanamannya:

Ciri Buah Cabai Rawit untuk Benih:

  • Umur buah harus tua, lebih baik lagi buah yang sudah mengering sendiri di tanaman;
  • Tanaman sudah berumur sekitar 7-8 bulan. Karena pada umur tersebut cabai rawit dalam masa produksi maksimal sampai umur 2 tahun atau 24 bulan;
  • Buah yang dijadikan calon bibit, disarankan buah dari petikan ke 5, 6, dan 7.
  • Hindari pengambilan buah calon bibit dari buah petikan ke 1, 2 dan 3, sebab buah petikan dalam masa-masa ini bijinya banyak yang kecil dan jarang-jarang.
Tips Memilih Biji untuk Benih Cabai Rawit:

Biji yang padat akan tenggelam ke dasar ember dan biji yang tak padat akan mengapung. Biji yang tenggelam inilah yang diambil untuk dijadikan calon bibit, yang mengapung dibuang saja.

Calon benih dijemur, tetapi tidak langsung kena sinar matahari. Penjemuran dihentikan bila calon benih sudah kering, lama penjemuran kira-kira 3 hari di musim kemarau. Selanjutnya, calon bibit yang sudah dikeringkan dilakukanseleksi ulang. 

Ciri-ciri Biji Cabai Rawit untuk Benih:
  • Biji tampak tebat, tidak kurus;
  • Biji tidak keriput dan kusam;
  • Permukaan benih bersih dan tidak tampa kotor;
  • Bentuknya seragam, tidak keriput atau cacat;
  • Warnah permukaan jernih dan berkilat.
Benih yang memenuhi ciri-ciri diatas, setelah dilakukan seleksi segera dimasukkan ke dalam kemasan yang diberi lubang angin dan disimpan di tempat kering, dan pastikan kondisi tempat penyimpanan tidak lembap agar tidak menimbulkan jamur. 

Cara budidaya cabai rawit yang baik, dapat dibaca pada artikel sebelum; Kiat-kiat sukses budidaya cabai rawit.

Hortikultura

[Hortikultura][recentbylabel2]

Info Pertanian

[Pertanian][recentbylabel2]
Notification
Dapatkan infomasi terbaru seputar petanian.
Done