28 April 2015

Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kedelai

Hama Ulat Grayak pada tanaman kedelai
Penerapan budi daya tanaman menggunakan teknologi inovasi baru di bidang pertanian, sudah menjadi keharusan dilaksanakan, kalau Indonesia ingin bersaing dengan negara lain yang maju dalam sektor pertanian.

Melalui penerapan teknologi maju (green revolution), diharapan dapat meningkatkan penyediaan bahan pangan nasional yang memadai, terutama tanaman pangan seperti padi dan kedelai. 
Namun, dalam budidaya kedelai, hal yang sering menjadi kendala bagi petani adalah dalam masalah pengendalian gulma dan hama, diantaranya dalam Budidaya Kedelai Tropika

Berikut tips ampuh dalam pengendalian gulma dam hama pada tanaman kedelai yang diracik dari berbagai penelitian, dan dipadu dengan pengalaman para petani kedelai.

Pengendalian Gulma dan Penyakit Pada Tanaman Kedelai:

Tanaman kedelai yang ditanam di lahan sawah (sesudah tanaman padi), untuk mencegah bermunculan gulma dapat mengunakan mulsa jerami, jumlah jerami sekitar 5 ton per hektar dengan ketebalan lebih kurang 5-8 cm. Dengan menggunakan cara ini, dapat menekan perkembangan gulma 60-65 persen pada sawah yang tidak melakukan proses membajak. Pada sawah yang dilakukan proses membajak atau mencakul ulang setelah padi panen, pertumbuhan gulam dapat ditekan sampai 90 persen.

Pengendalian gulma pada tanaman kedelai, dapat dilakukan sebanyak 2 kali yaitu, sebelum masa berbunga dan pada masa pratumbuh (4-5 hari sebelum tanam). Pada masa pratumbuh, penggunaan herbisida sangat dianjurkan.
Pengendalian hama pada tanaman kedelai juga dapat dilakukan secara terpadu. Misalnya, untuk mengurangi hama ulat grayak dapat dilakukan dengan cara menanam jagung atau kacang hijau, sebanyak 5% yang ditanaman secara acak atau satu baris dalam petakan lahan pertanaman kedelai.

Pengendalian hama pada tanaman kedelai, dapat dilakukan pengendalian secara hayati (biologis) dan pertisida. Pengendalian secara hayati adalah menggunakan musuh alami yang terdiri dari parasitoid, patogen, dan predator. Untuk menekan populasi ulat grayak tanaman kedelai, sangat efektif dengan menggunakan sex peramon sebanyak 6 trap bekas botol air mineral untuk setiap hektar.

Pengendalian hama tanaman dengan pertisida sangat tidak dianjurkan. Penggunaan pestisida adalah pilihan akhir, jika pengendalian cara lain tidak mampu menekan jumlah hama yang menyerang tanaman kedelai. 

"Pengendalian hama dan penyakit dengan pertisida harus dilakukan dengan bijaksana, agar musuh alamiah tetap bisa berlangsung".
Kebanyakan para petani kedelai, untuk mengendalian hama lalat bibit menggunakan insektisida dengan cara dioleskan pada biji kedelai. Sedangkan dalam menangani hama ulat daun, pada umumnya para petani menggunakan insektisida kontak, saat hama berada pada tahap stadia awal (I-II).

Hati-hati menggunakan insektisida, apabila pemberian insektisida dilakukan melebih dosis yang dianjurkan, hama bisa menjadi kebal. Dengan terjadinya kekebalan maka hama tidak mati atau berkurang.

Sementara, penggunaan insektisida dengan takaran yang rendah bisa menjadi masalah. Karena, dapat menyebabkan hama bertambah subur dan cenderung cepat berkembang biak.

Artikel Terkait