30 April 2015

Menjaga Keaslian Civet Coffee Indonesia

Kopi Luwak (Civet Coffee) adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran Musang/Luwak. Biji kopi yang dimakan luwak, diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah melewati saluran pencernaan binatang luwak (Paradoxurus hermaphrodirus)

Binatang Luwak sering disebut dengan Musang, jenis binatang pemakan buah-buahan yang berbau harum, suka memilih buah-buah yang bagus dan matang. Salah satu buah-buahan yang sangat digemari Musang adalah buah kopi yang berkwalitas. Musang tidak suka pada buah kopi yang kurang matang dan kotor. 

"Salah satu buah-buahan yang sangat digemari Musang adalah buah kopi yang berkwalitas. Musang tidak suka pada buah kopi yang kurang matang dan kotor." 
Ada dua jenis Luwak/Musang unggulan yang sering ditangkarkan untuk memproduksi kopi luwak, yaitu Musang Tilu dan Musang Molen dengan ciri-ciri :
  • Musang/Luwak (Tilu) atau Musang Bulan. Cirinya; Berbulu hitam di pipi dan ujung buntutnya berbulu putih (Genetis Harimau).
  • Musang/luwak (Molen) atau Musang Binturu. Cirinya; Berbulu hitam polos tanpa ada bulu putih dimuka dan dipipinya, dan tidak ada ada bulu putih diujung buntutnya. Kepala Musang Binturu kecil dan badannya besar mencapai ukuran 30kg, Adapun bulu putih hanya menyerupai uban pada manusia (Genetis Beruang).
Musang/Luwak tergolong binatang buas pemakan daging (karnivora), dan bersifat pemakan sesama (kanibalisme). 

Sejarah Kopi Luwak (Civet Coffee) di Asia Tenggara
Kemasyhuran kopi luwak di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru menjadi terkenal luas di peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun 1980-an. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, harganya mencapai USD100 per 450 gram.

Sejarah Kopi Luwak (Civet Coffee) terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera. 

Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dari Yaman. Pada era "Tanam Paksa" atau Cultuurstelsel (1830—1870), Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna.


Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak. Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak menjadi kopi yang mahal sejak zaman kolonial.


Kopi luwak merupakan salah satu upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kopi, di samping komoditas kopi biasa seperti kopi reguler Arabika (Java coffee) dan kopi reguler Robusta. 


Yang membedakan kopi luwak dengan biji kopi biasa adalah dimakan oleh Luwak, dan di keluarkan dalam bentuk biji kopi, sehingga aromanya lebih harum serta ada rasa pahit dan getir asam yang lebih khas dan special. 


Kopi luwak adalah jenis biji kopi yang termahal di dunia, sehingga sampai masuk ke Guiness Book of Records. Kemasyhuran kopi luwak telah terkenal sampai kemancanegara, bahkan di luar negeri. Karena sejak dahulu, sewaktu penjajahan Belanda, kopi luwak sudah menempati posisi pasar paling atas, baik dilihat dari sisi rasa maupun harga.


Kopi Luwak (Civet Coffee) Asli Indonesia

Kita perlu beryukur karena tanah kelahiran kita telah dianugerahi banyak jenis tumbuhan kopi. Sehingga, Indonesia telah dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Indonesia memiliki 40 varian kopi dari Sabang-Aceh sampai Meuroke-Papua.

Indonesia memiliki macam jenis tumbuhan kopi seperti kopi Gayo dan kopi Wamena. Kedua jenis kopi tersebut merupakan jenis kopi Arabika terbaik. Secara umum, terdapat dua jenis biji kopi yaitu kopi arabika dan robusta. Jenis-jenis Kopi terbaik Indonesia, dapat Anda dibaca pada artikel: Kopi Indonesia, Kopi Terbaik di Dunia. 


Biasanya tumbuhan kopi tumbuh di perkebunan dengan ketinggian berada di atas 15.000 kaki dari pantai dengan suhu 20-25 derajat celcius. Tanah Aceh dan Papua merupakan tanah yang subur yang dapat menghasilkan kopi organic dengan kualitas terbaik.


Menjaga Keaslian Kopi Luwak (Civet Coffee)

Keaslian kopi luwak bukan hanya ditentukan pada harganya yang melambung tinggi diatas level harga kopi pada umumnya, tetapi dari perjalanan kopi itu sendiri yang diawali dari proses tanam kopi oleh petani sampai proses penyajian. 

Untuk menjada keaslian kopi luwak Indonesia, penanganannya harus benar-benar dapat diperhatikan, dari awal panen, proses pencernanan oleh Musang/Luwak, pengeringan/Kadar Air (%), pembersihan/pencucian, penggorengan/sangrai, pembubukan dan penyajian. 


Sebab, semua proses tersebut, merupakan titik kunci dalam menjaga cita rasa dan aroma kopi luwak Indonesia.

Artikel Terkait